Blogger Widgets KESENIAN SISINGAAN - FIRMANSYAH AHMAD BLOG

KESENIAN SISINGAAN


Hai sobat yang berbahagia dalam kesempatan kali ini saya akan menginformasikan tentang apa yang saya ketahui tentang kebudayaan INDONESIA, kita ketahui sekarang adalah jaman modern yang dimana tradisi atau kebudayaan akan semakin berkurang eksistensinya, dikarenakan kebudayaan. Kita sebagai rakyat Indonesia setidaknya tau tentang apa saja kebudayaan yang berada di Indonesia atau bahkan kota tempatmu tinggal. Dalam kesempatan kali ini saya akan berbagi tentang kebudayaan yang saya ketahui yaitu salah satunya adalah kebudayaan khas jawa barat yang mungkin saat ini sudah jarang terlihat yaitu sisingaan, kebudayaan ini berawal dari daerah subang jawa barat yang mana daerah ini pula kental dengan tradisi sundanya. Yang saya kagumi atas tradisi ini adalah cara orang menyambut atau memeriahkan tradisi ini sejak jaman dahulu sampai sekarang. Pada dasarnya, tradisi sisingaan hanya akan dilakukan jika hanya ada seorang anak yang akan khitanan atau bahasa kasarny yaitu di sunat, sebelum masuk kesana kita ketahui dulu apa yang dimaksud dengan sisingan dan kenapa diadakannya sisingaan tersebut disinilah peran saya untuk menjelaskan tradisi ini menurut pendapat saya sendiri. ENJOY it  

KEBUDAYAAN KHAS SUBANG JAWA BARAT (SISINGAAN)


Pengertian kesenian Sisingaan

Kebudayaan sisingaan adalah salah satu kebudayaan atau kesenian yang dimiliki indonesia yang menjadi pertunjukan seni masyarakat yang dilakukan dengan bergotong royong dan meriah yang berbentuk helaran mengelilingi desa atau suatu kawasan. Nama sisingaan berasal dari kata sunda yang artinya singa tiruan, yang singa tiruan itu sendiri menjadi peralan penting dalam pertunjukan, diambil mascot singa karena singa melambangkan keperkasaan, keberanian dan kekuatan sehingga seseorang yang menaiki sisingaan akan menjadi seseorang yang kuat, perkasa dan memiliki kekuatan yang baik dalam kehidupannya kelak.

Tujuan kesenian sisingaan

          Kesenian sisingaan bertujuan untuk merayakan sesuatu atau juga bisa digunakan sebagai penyambutan tame istimewa, contohnya dalam rangka khitanan, HUT kemerdekaan Indonesia, menyambut tamu kebangsaan dan lain sebagainya.

Sejarah dan perkembangan singkat kesenian sisingaan

Ada beberapa keterangan maupun versi tentang asal usul dan perkembangan Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat Subang terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu untuk menyerang.

Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Atju. Pada waktu itu Rachmatulah Ading Affandi sebagai seniman dan budayawan dimintakan partisipasinya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat Subang.

          Kesenian sisingaan itu menurut sejarawan yaitu berawal dari tahun 1957 di daerah ciherang kota Subang, kemudian mulai menyebar ke daerah cigadung dan sekitarnya dan juga mulai tersebar ke semua daerah kota subang, seiring berjalannya waktu sisingaan juga telah menjamur itu dikarenakan mereka melakukan inovasi-inovasi yang lebih baik sehingga masyarakat lebih menyukainyanya yang diantaranya busana yang dikenakan para penari sekaligus penggotong sisingaan yang dulu tampak sederhana menjadi busana yang cerah lebih berwarna atau bentuk sisingaan itu sendiri yang dulu hanya berupa bahan yang sederhana cenderung tidak mirip singa sekarang menjadi lebih mirip dan diganti dengan bahan yang lebih baik cenderung memakai boneka singa kalau jaman sekarang dan masih banyak lagi inovasi-inovasi yang dilakukan para pelaku seni sisingaan yang mereka inovasikan itulah sebabnya berkembang pesatnya kesenian sisingaan yang meluas ke daerah kabupaten bandung dan sumedang bahkan ke seluruh Indonesia. Hingga saat sekarang, kesenian sisingaan telah berkembang pesat dan tercatat ada sekitar 165 group dengan jumlah senimannya 2.695 orang.

          Sampai saat ini kesenian sisingaan masih populer dikalangan masyarakat sunda, untuk saat ini pemerintah khususnya pemerintah daerah subang dan sekitarnya telah mengupayakan agar kesenian khas subang ini tetap lestari dengan mengupayakan hal-hal diantaranya yaitu mengadakan festival-festival kesenian daerah, dan mengadakan promosi ke daerah luar provinsi atau pun dalam skala nasional, agar kesenian seperti ini tidak hilang.

Peralatan dan hal-hal yang ada dalam kesenian sisingaan

          Peralatan yang digunakan dalam setiap pertunjukan terdiri dari: usungan sisingaan, terompet, ketuk,, kempul, goong dan kecrek. Busana pemainnya menggunakan pakaian adat sunda seperti; celana kampret, ikat kepala, ikat pinggang, baju taqwa dan menggunakan sepatu kelenci dan penunggang sisingaannya biasanya anak sunat yang menggunakan pakaian sunatan.

Didalam seni sisingaan terdapat unsur-unsur seperti; seni tari, olah raga (Pencak Silat dan Jaipongan), seni karawitan, seni sastra dan seni busana. Semua unsur tersebut berpadu dan bersinerji membentuk suatu tari dan lagu dan acapkali ditambah dengan gerak akrobat yang membentuk formasi seperti standen yang menyusuri jalan-jalan umum agar masyarakat melihat pertunjukan tersebut.

Proses pertunjukan kesenian sisingaan pada dasarnya dimulai dengan sambutan pembicara oleh ketua group setiap kesenian sisingaan untuk meminta doa kelancaran atau sebagainya, kemudian langsung dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis dan seirama tari pemain sisingaan. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

terima kasih wasalamualaikum wr wb.
Share this article :
 

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FIRMANSYAH AHMAD BLOG - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger